Cara mengatasi iklan di website yang kita kunjungi

Haloo hallooooo... kembali lagi dengan saya badjoes.. kali ini saya akan bagi-bagi tips buat kalian yang risih terhadap iklan yang tampil pada halaman website yang kalian kunjungi.
Caranya sangat mudah dan gampang kok, gak butuh banyak memori pada hardisk kalian...
oke langsung praktek ya...

1.  Harus ada akses internet dulu, soalnya ini instal lewat onlen
2.  Buka browser kesayangan kalian, kalau saya sih meromended pakek firefox atau chorme.. hehehe
3. Instal extension/addons yang bernama "Adblockplus"
4. Udah itu aja kok caranya.. gampang kan?

Kalau kalian tidak tau cara instalnya gini saya akan kasih langkah-langkah instal extension/addon di browser chorme dan firefox

1. Browser Google Chorme

-caranya seperti ini, dan usahakan google chorme milik kalian adalah google chorme yang sudah update ya.. jangan sampek kudet :p


-kemudian muncul tampilan baru lalu kalian scrool ke bawah lalu pilih sesuai ini


-setelah itu pada kolom pencarian extension ketik aja Adblockplus setelah itu enter
-dan akan uncul banyak kategori Adblockplus, tapi kalian pilih aja yg ini ya, soalnya yang menjamin dan kelihatannya yang lain itu abal-abali loh


-pilih "add to chorme" yang yang ada di sebelah kanan warna biru, berhubung saya udah instal jadinya ya gak ada tulisan itu deh
-tunggu beberapa detik untuk proses downloadnya dan kalau udah selesai adblockplus akan terinstal otomatis ke google chorme kalian loh.
-finish dah..


2. Browser Mozila Firefox

-sama halnya pada chorme, usahakan kalian memiliki firefox yang terupdate minimal firefox versi 16 lah biar gak terlalu kudet..hahhaha :D

-buka mozila firefox kalian kemudian ketik Ctrl + Shift + A
- kemudian ketik di kolom pencarian adblockplus seperti gambar ini


- oiya ini saya pakek bahasa indonesia, kalau inggrisnya namanya download addons bukan unduh pengaya..hehe
-setelah itu enter, kemudian seperti chorme akan banyak pilihan adblockplus nya, jadi pilih aja ini yang menurut saya terpercaya



-pilih instal, lalu tungg beberapa detik proses download dan instalasi, instalasinya pun otomatis, biasanya kita disuruh refresh website yg ada iklannya atau menutup firefox kemudian membuaknya lagi
-beda firefox beda rasa yang penting harus firefox minim veri 16 loh ya.. biar lancar.hahaha



cuman gini..ada beberapa website yang menyuruhh kita untuk mematikan adblockplus kita agar kita bisa mengakses website itu, tapi tenang aja biasanya cuman dikit kok website kayak gitu.. dan iklan difacebook yang biasa ada di sebelah kanan akan ikut hilang juga looh :3

tapi kadang2 juga saya menemukan kasus, kita disuruh matikan adblockplus saat menggunakan akses wifi dari telkom speedy.. naah mungkin mereka mau ngacak2 pencarian kita ya atau biar iklan mereka tetap eksis :/


SELAMAT MENCOBA ^_^

Pengenalan Sumber dan Bahan Beracun Berbahaya

SUMBER-SUMBER KECELAKAAN KERJA
Faktor-faktor yang besar pengaruhnya terhadap timbulnya bahaya dalam proses industri maupun laboratorium meliputi suhu, tekanan, dan konsentrasi zat-zat pereaksi. Suhu yang tinggi diperlukan dalam rangka menaikkan kecepatan reaksi kimia dalam industri, hanya saja ketahanan alat terhadap suhu harus dipertimbangkan. Tekanan yang tinggi diperlukan untuk mempercepat reaksi, akan tetapi kalau tekanan sistem melampaui batas yang diperkenankan dapat terjadi peledakan. Apalagi jika proses dilakukan pada suhu tinggi dan reaktor tidak kuat lagi menahan beban. Konsentrasi zat pereaksi yang tinggi dapat menyebabkan korosif terhadap reaktor dan dapat mengurangi umur peralataan. Selain itu sifat bahan seperti bahan yang mudah terbakar, mudah meledak, bahan beracun, atau dapat merusak bagian tubuh manusia.
Beberapa sumber bahaya yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dapat dikategorikan sebagai berikut:
1.      Bahan Kimia.
Meliputi bahan mudah terbakar, bersifat racun, korosif, tidak stabil, sangat reaktif, dan gas yang berbahaya. Penggunaan senyawa yang bersifat karsinogenik dalam industri maupun laboratorium merupakan problem yang signifikan, baik karena sifatnya yang berbahaya maupun cara yang ditempuh dalam penanganannya. Beberapa langkah yang harus ditempuh dalam penanganan bahan kimia berbahaya meliputi manajemen, cara pengatasan, penyimpanan dan pelabelan, keselamatan di laboratorium, pengendalian dan pengontrolan tempat kerja, dekontaminasi, disposal, prosedur keadaan darurat, kesehatan pribadi para pekerja, dan pelatihan. Bahan kimia dapat menyebabkan kecelakaan melalui pernafasan (seperti gas beracun), serapan pada kulit (cairan), atau bahkan tertelan melalui mulut untuk padatan dan cairan.
      Bahan kimia berbahaya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori yaitu, bahan kimia yang eksplosif (oksidator, logam aktif, hidrida, alkil logam, senyawa tidak stabil secara termodinamika, gas yang mudah terbakar, dan uap yang mudah terbakar). Bahan kimia yang korosif (asam anorganik kuat, asam anorganik lemah, asam organik kuat, asam organik lemah, alkil kuat, pengoksidasi, pelarut organik). Bahan kimia yang merusak paru-paru (asbes), bahan kimia beracun, dan bahan kimia karsinogenik (memicu pertumbuhan sel kanker), dan teratogenik.
2.      Bahan-bahan Biologis.
Bakteri, jamur, virus, dan parasit merupakan bahan-bahan biologis yang sering digunakan dalam industri maupun dalam skala laboratorium. Pada golongan ini bukan hanya organisme saja, tetapi juga semua bahan biokimia, termasuk di dalamnya gula sederhana, asam amino, dan substrat yang digunakan dalam proses industri. Penanganan dalam penyimpanan proses maupun pembuangan bahan biologis ini perlu mendapatkan ketelitian dan kehati-hatian, mengingat gangguan kontaminasi akibat organisme dapat menyebabkan kerusakan sel-sel tubuh yang serius pada karyawan atau tenaga kerja.
3.      Aliran Listrik
Penggunaan peralatan dengan daya yang besar akan memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan kerja. Beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain:
a.       Pemakaian safety switches yang dapat memutus arus listrik jika penggunaan melebihi limit/batas yang ditetapkan oleh alat.
b.      Improvisasi terhadap peralatan listrik harus memperhatikan standar keamanan dari peralatan.
c.       Penggunaan peralatan yang sesuai dengan kondisi kerja sangat diperlukan untuk menghindari kecelakaan kerja.
d.      Berhati-hati dengan air. Jangan pernah meninggalkan perkerjaan yang memungkinkan peralatan listrik jatuh atau bersinggungan dengan air. Begitu juga dengan semburan air yang langsung berinteraksi dengan peralatan listrik.
e.       Berhati-hati dalam membangun atau mereparasi peralatan listrik agar tidak membahayakan penguna yang lain dengan cara memberikan keterangan tentang spesifikasi peralatan yang telah direparasi.
f.       Pertimbangan bahwa bahan kimia dapat merusak peralatan listrik maupun isolator sebagai pengaman arus listrik. Sifat korosif dari bahan kimia dapat menyebabkan kerusakan pada komponen listrik.
g.      Perhatikan instalasi listrik jika bekerja pada atmosfer yang mudah meledak. Misalnya pada lemari asam yang digunakan untuk pengendalian gas yang mudah terbakar.
h.      Pengoperasian suhu dari peralatan listrik akan memberikan pengaruh pada bahan isolator listrik. Temperatur sangat rendah menyebabkan isolator akan mudah patah dan rusak. Isolator yang terbuat dari bahan polivinil clorida (PVC) tidak baik digunakan pada suhu di bawah 0 oC. Karet silikon dapat digunakan pada suhu –50 oC. Batas maksimum pengoperasian alat juga penting untuk diperhatikan. Bahan isolator dari polivinil clorida dapat digunakan sampai pada suhu 75 oC, sedangkan karet silikon dapat digunakan sampai pada suhu 150 oC.
4.      Ionisasi Radiasi
Ionisasi radiasi dapat dikeluarkan dari peralatan semacam X-ray difraksi atau radiasi internal yang digunakan oleh material radioaktif yang dapat masuk ke dalam badan manusia melalui pernafasan, atau serapan melalui kulit. Non-ionisasi radiasi seperti ultraviolet, infra merah, frekuensi radio, laser, dan radiasi elektromagnetik dan medan magnet juga harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai sumber kecelakaan kerja.
5.      Mekanik.
Walaupun industri dan laboratorium modern lebih didominasi oleh peralatan yang terkontrol oleh komputer, termasuk didalamnya robot pengangkat benda berat, namun demikian kerja mekanik masih harus dilakukan. Pekerjaan mekanik seperti transportasi bahan baku, penggantian peralatan habis pakai, masih harus dilakukan secara manual, sehingga kesalahan prosedur kerja dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Peralatan keselamatan kerja seperti helmet, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain perlu mendapatkan perhatian khusus dalam lingkup pekerjaan ini.
6.      Api.
Hampir semua laboratorium atau industri menggunakan bahan kimia dalam berbagai variasi penggunaan termasuk proses pembuatan, pemformulaan atau analisis. Cairan mudah terbakar yang sering digunakan dalam laboratorium atau industri  adalah hidrokarbon. Bahan mudah terbakar yang lain misalnya pelarut organik seperti aseton, benzen, butanol, etanol, dietil eter, karbon disulfida, toluena, heksana, dan lain-lain. Para pekerja harus berusaha untuk akrab dan mengerti dengan informasi yang terdapat dalam Material Safety Data Sheets (MSDS). Dokumen MSDS memberikan penjelasan tentang tingkat bahaya dari setiap bahan kimia, termasuk di dalamnya tentang kuantitas bahan yang diperkenankan untuk disimpan secara aman.
Sumber api yang lain dapat berasal dari senyawa yang dapat meledak atau tidak stabil. Banyak senyawa kimia yang mudah meledak sendiri atau mudah meledak jika bereaksi dengan senyawa lain. Senyawa yang tidak stabil harus diberi label pada penyimpanannya. Gas bertekanan juga merupakan sumber kecelakaan kerja akibat terbentuknya atmosfer dari gas yang mudah terbakar.
7.      Suara (kebisingan).
Sumber kecelakaan kerja yang satu ini pada umumnya terjadi pada hampir semua industri, baik industri kecil, menengah, maupun industri besar. Generator pembangkit listrik, instalasi pendingin, atau mesin pembuat vakum, merupakan sekian contoh dari peralatan yang diperlukan dalam industri. Peralatan-peralatan tersebut berpotensi mengeluarkan suara yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan  gangguan kesehatan kerja. Selain angka kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin, para pekerja harus memperhatikan berapa lama mereka bekerja dalam lingkungan tersebut. Pelindung telinga dari kebisingan juga harus diperhatikan untuk menjamin keselamatan kerja.

PENGENALAN BAHAN BERACUN DAN BERBAHAYA
1. Petunjuk umum untuk menangani buangan sampah.
Semua bahan buangan atau sampah seharusnya dikumpulkan menurut jenis bahan tersebut. Bahan-bahan tersebut ada yang dapat didaur ulang dan ada pula yang tidak dapat didaur ulang. Bahan yang termasuk kelompok bahan buangan/sampah yang dapat di daur ulang antara lain gelas, kaleng, botol baterai, sisa-sisa konstruksi bangunan, sampah biologi seperti tanaman, buah-buahan, kantong dan beberapa jenis bahan-bahan kimia. Sedangkan bahan-bahan buangan yang tidak dapat didaur ulang atau yang sukar didaur ulang seperti plastik hendaknya dihancurkan. Karena belum ada aturan yang jelas dalam cara pembuangan jenis sampah di Indonesia, maka sebelum sampah dibuang harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium yang bersangkutan.
2. Bahan-bahan buangan yang umum terdapat di laboratorium.
a. Fine chemicals.
Fine chemicals hanya dapat dibuang ke saluran pembuangan atau tempat sampah jika: 
1.      Tidak bereaksi dengan air.
2.      Tidak eksplosif (mudah meledak).
3.      Tidak bersifat radioaktif.
4.      Tidak beracun.
5.      Komposisinya diketahui jelas.
b Larutan basa.
Hanya larutan basa dari alkali hidroksida yang bebas sianida, ammoniak, senyawa organik, minyak dan lemak dapat dibuang kesaluran pembuangan. Sebelum dibuang larutan basa itu harus dinetralkan terlebih dahulu. Proses penetralan dilakukan pada tempat yang disediakan dan dilakukan menurut prosedur mutu laboratorium.
c. Larutan asam.
Seperti juga larutan basa, larutan asam tidak boleh mengandung senyawa-senyawa beracun dan berbahaya dan selain itu sebelum dibuang juga harus dinetralkan pada tempat dan prosedur sesuai ketentuan laboratorium.
d. Pelarut.
Pelarut yang tidak dapat digunakan lagi dapat dibuang ke saluran pembuangan jika tidak mengandung halogen (bebas Fluor, Clorida, Bromida, dan Iodida). Jika diperlukan dapat dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran air keluar. Untuk pelarut yang mengandung halogen seperti kloroform (CHCl3) sebelum dibuang harus dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium tempat dimana bahan tersebut akan dibuang.
e. Bahan mengandung merkuri.
Untuk bahan yang mengandung merkuri (seperti pecahan termometer merkuri, manometer, pompa merkuri, dan sebagainya) pembuangan harus ekstra hati-hati. Perlu dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium sebelum bahan tersebut dibuang.
f. Bahan radiokatif.
Sampah radioaktif memerlukan penanganan yang khusus. Otoritas yang berwenang dalam pengelolaan sampah radioaktif di Indonesia adalah Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).
g. Air pembilas.
Air pembilas harus bebas merkuri, sianida, ammoniak, minyak, lemak, dan bahan beracun serta bahan berbahaya lainnya sebelum dibuang ke saluran pembuangan keluar.
3. Penanganan Kebakaran
Beberapa bahan kimia seperti eter, metanol, kloroform, dan lain-lain bersifat mudah terbakar dan mudah meledak. Apabila karena sesuatu kelalaian terjadi kecelakaan sehingga mengakibatkan kebakaran laboratorium atau bahan-bahan kimia, maka kita harus melakukan usaha-usaha sebagai berikut:
a.       Jika apinya kecil, maka lakukan pemadaman dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
b.      Matikan sumber linstrik/ gardu utama agar listrik tidak mengganggu upaya pemadaman kebakaran.
c.       Lokalisasi api supaya tidak merember ke arah bahaan mudah terbakar lainnya.
d.      Jika api mulai membesar, jangan mencoba-coba untuk memadamkan api dengan APAR. Segera panggil mobil unit Pertolongan Bahaya Kebakaran (PBK) yang terdekat.

e.       Bersikaplah tenang dalam menangani kebakaran, dan jangan mengambil tidakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Penerapan alat ergonomi









 
Penerapan Alat-alat Berbasis Ergonomi Pada Laboratorium Praktikum Teknik Elektro (Lab. Instalasi Penerangan)
          Penerapan alat-alat berbasis ergonomi dalam laboratorium instalasi penerangan teknik elektro masih belum memenuhi standar kelayakan untuk digunakan pada saat praktikum. Hal ini terbukti dari banyaknya mahasiswa yang mengeluh karena mengalami kejenuhan fisik setelah melakukan praktikum. Kejenuhan fisik yang dialami biasanya terjadi pada bagian pundak, pinggang, leher dan kaki. Pada bagian pundak terjadi kejenuhan karena tidak adanya sandaran pada kursi laboratorium, selain itu posisi meja kurang sesuai dengan antropometri posisi duduk, misalnya ketidaksesuaian tinggi kursi dan meja praktikum dengan keadaan tubuh mahasiswa. Hal ini secara tidak langsung juga mempengaruhi pada bagian leher. Sebab, saat pundak dan kaki mengalami kejenuhan, maka hal tersebut akan merangsang kekakuan pada bagian leher. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu penerapan alat-alat praktikum yang berbasis ergonomi bisa dengan cara menerapkan kursi-kursi yang ada sandarannya di belakang, meja yang tidak terlalu tinggi ataupun sebaliknya, selain itu ukuran alat praktikum harus sesuai dengan ukuran mahasiswa.
Penggunaan Alat-alat Berbasis Ergnomi Pada Laboratorium Praktikum Teknik Elektro (Lab. Instalasi Penerangan)
          Pengunaaan alat ergonomi di laboratorium praktikum teknik elektro harus sesuai dengan antromometri posisi duduk. Antopometri posisi duduk yang terpenting harus diukur adalah tinggi lutut (TL), lipat lutut punggung (LPP), tinggi duduk (TD), lipat lutut telapak kaki (LLTK), dan panjang lengan bawah dan lengan (PLBL). Hasil yang diperoleh dari pengolahan data antopometri untuk posisi duduk yaitu tinggi kursi 54 cm dan alas duduk dengan diameter 35 cm. Selain posisi duduk, posisi meja juga harus diperhatikan. Posisi meja juga harus diukur sesuai posisi sandaran siku dan kaki. Pada desain meja dengan tinggi 78,3 cm, panjang meja 24 cm, dan lebar meja 70 cm. Hasil pengolahan data tersebut cukup baik digunakan untuk alat-alat pada laboratorium Teknik Elektro yang berbasis Ergonomi.
Solusi Untuk Menerapkan Ilmu Ergonomi Pada Laboratorium Praktikum Teknik Elektro (Lab. Instalasi Penerangan)
          Dari beberapa permasalahan yang sering timbul di lingkungan praktikum pada laboratorium instalasi penerangan. Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan guna menghindari terjadinya kejenuhan fisik pada saat praktikum, apalagi sampai terjadinya kecelakaan pada saat praktikum.
          Beberapa solusi yang dapat dilakukan di laboratorium praktikum instalasi penerangan teknik elektro sebagai berikut :
1.             Bila posisi pada saat praktikum lebih banyak duduk seperti pada saat praktikum menyolder :
·         Mengatur keadaan kursi praktikum yang sesuai dengan tinggi mayoritas mahasiswa.
·         Memberi sandaran pada kursi praktikum.
·         Landasan harus memungkinkan lengan menggantung pada posisi rileks dari bahu, dengan lengan bawah mendekati posisi horizontal atau sedikit menurun.
·         Ketinggian landasan praktikum tak memerlukan menekuk tulang belakang yang berlebihan.
2.             Bila posisi pada saat praktikum lebih banyak berdiri seperti pada saat pemasangan instalasi :
·         Bekerja dengan posisi tegak ke depan.
·         Mengurangi gerakan yang tidak perlu, selain itu saat praktikum kita juga harus memakai sepatu yang senyaman mungkin.
·         Menghindari postur tubuh yang tidak berubah/statis, sesekali regangkan otot.
·         Apabila memerlukan aktivitas untuk menjangkau barang-barang tertentu, maka letakkan barang tersebut pada posisi minimal yang mudah dijangkau oleh tangan kita.
3.        Bila posisi praktikum dinamis, ada pergantian antara duduk dan berdiri yaitu:
·          Mengusahakan benda yang akan kita jangkau berada maksimal 15cm di atas landasan praktikum.

·         Tinggi landasan praktikum dengan landasan kisaran antara 90cm-120cm, merupakan ketinggian yang paling tepat dan baik untuk posisi duduk maupun berdiri 

Dasar Pemogramann Komputer Fungsi





 
Latihan
  Latihan 1
Syntax  pada Microsoft Visual C++ :
/*fungsi*/
#include <stdio.h>
//deklarasi fungsi
int cari(int n1, int n2);
void prin (int m);
//main function
main ()
{
     int i=5;
     int j=7;
     int k;
     k=cari(i,j);
     prin(k);
     return 0;
}
//<--fuction definition here
int cari (int a, int b)
{if (a>b) return a;
else return b;
}
void prin(int m)
{
     printf ("Bilangan terbesar adalah : %d\n",m);
}
//end 

 Penjelasan Program :
Program ini merupakan sebuah program yang digunakan untuk menentukan bilangan terbesar dengan menggunakan fungsi. Pertama pada fungsi main kita deklarasikan i dan j yang masing-masing kita beri nilai 5 dan 7. Selanjutnya akan variabel i dan j tadi akan masuk pada fungsi cari yang nantinya akan ditentukan bilangan terbesarnya. Jika a> b maka akan menjadi a sedangkan jika sebaliknya maka akan menjadi b. Setelah di dapat hasil dari fungsi cari maka akan masuk pada fungsi prin yang akan menampilkan hasil setelah proses tadi.Saat program dijalankan akan muncul bilangan terbesar 7.

Latihan 2
Syntax  pada Microsoft Visual C++ :
#include <iostream.h>
//deklarasi fungsi
int calcsalestax(float purchase, float taxrate=0.1);
//mamin function
main ()
{
     float purchase;
     cout<<"Masukkan pembelian: ";
     cin>>purchase;

     float tax=calcsalestax(purchase);
     cout<<"Pajak pembelian adalah : "<<tax<<endl;
     return 0;
}
int calcsalestax(float purchase, float taxrate)
{
     return purchase * taxrate;
}

Penjelasan Program :
Program ini merupakan sebuah program yang digunakan untuk menghitung pajak pembelian. Ketika program dijalankan maka kita diminta untuk memasukkan pembelian kita, selanjutnya akan dilakukan proses penghitungan pajak pembelian. Setelah kita memasukkan pembelian maka selanjutnya akan masuk pada fungsi perhitungan pajak yakni 0.1atau 10% dari total pemeblian kita. Selanjutnya akan kembali ke fungsi main() atau fungsi utama dan akan menampilkan pajak pembelian kita.

Fungsi Rekursif
Latihan 1
Coding pada Microsoft Visual C++ :
/*aplikasi rekursif pada faktorial*/
#include <iostream.h>
#include <stdlib.h>
int faktorial(int a)
{
     if(a==0)
                 return 1;
     else
                 return a *(faktorial(a-1));
}
void main()
{
     int x;
     cout<<"Mencari Nilai Faktorial \n";
     cout<<"Masukkan nilai n= ";
     cin>>x;
     cout<<"Faktorial "<<x<<"!="<<faktorial (x)<<endl;
}

Penjelasan Program :
Program tersebut digunakan untuk menghitung nilai faktorial.Kita diminta untuk memasukkan nilai n yang akan dicari nilai faktorialnya. Selanjutnya nilai tersebut akan masuk pada fungsi faktorial dan akan dihitung nilainya menggunakan fungsi faktorial (fungsi rekursif). Faktorial dari bilangan asli n adalah hasil perkalian antara bilangan bulat positif yang kurang dari atau sama dengan n.

Latihan 2
      Coding pada Microsoft Visual C++ :
/*aplikasi rekursif pada fibonacci*/
#include <iostream.h>
long fibo(long a)
{
     if (a==1 || a==2)
                 return 1;
     else
                 return fibo(a-1)+fibo(a-2);
}
void main ()
{
     int x;
     cout<<"Mencari nilai fibonacci \n";
     cout<<"Masukkan nilai n= ";
     cin>>x;
     cout<<"Fibonacci "<<x<<" = "<<fibo(x)<<endl;
     }

Penjelasan Program :
Program tersebut digunakan untuk menghitung nilai fibonacci. Kita diminta untuk memasukkan nilai n yang akan dicari nilai fibonaccinya. Selanjutnya nilai tersebut akan masuk pada fungsi fibonacci dan akan dihitung nilainya menggunakan fungsi fibonacci (fungsi rekursif). Bilangan fibonacci adalah suatu deret bilangan bulat positif (integer) tak berhingga yang secara berurutan adalah didefinisikan sebagai berikut :
1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, dst....
Jika diamati deret bilangan fibbonacci di atas maka dapat dipahami bahwa nilai bilangan fibonacci suku ke n dalam deret tersebut dapat dihitung dengan menjumlahkan dua bilangan terdekat pada urutan sebelumnya.


Call by Value dan Call by Reference
Coding pada Microsoft Visual C++ :
#include <iostream.h>
voidrtukar(int*, int*);
voidvtukar(int, int);
main ()
{
            inta,b;
            a=99;
            b=11;
            //call by reference
            cout<<"Nilaisebelumpemanggilanfungsi : "<<endl;
            cout<<"Nilai a= "<<a<<", Nilai b= "<<b<<endl;
            rtukar(&a,&b);
            cout<<"Nilaisetelahpemanggilanfungsirtukar: "<<endl;
            cout<<"Nilai a= "<<a<<", Nilai b= "<<b<<endl<<endl<<endl;
            //kembalikankenilaisemula
            a=99;
            b=11;
            //call by value
            cout<<"\nNilaisebelumpemanggilanfungsi : "<<endl;
            cout<<"Niali a= "<<a<<", Nilai b= "<<b<<endl<<endl;
            vtukar(a,b);
            cout<<"Nilaisetelahpemanggilanfuungsivtukar: "<<endl;
            cout<<"Nilaai a= "<<a<<", Nilai b= "<<b<<endl;
            return 0;
}
void  rtukar (int *px, int *py)
{
            int temp;
            temp = *px;
            *px = *py;
            *py = temp;
            cout<<"\nNilaipadafungsidengan call by reference : "<<endl;
            cout<<"Nilaipx= "<<*px<<", Nilaipy= "<<*py<<endl<<endl;
}
voidvtukar (intpx, intpy)
{
            int temp;
            temp = px;
            px = py;
            py = temp;
            cout<<"Nilaipadafungsidengan call by value : "<<endl;
            cout<<"Nilaipx= "<<px<<", Nilaipy= "<<py<<endl<<endl;


Penjelasan Program :
Program diatas ditujukan untuk menukar nilai dari dua buah nilai. Dalam program tersebut penukaran nilai dilakukan dengan dua cara yakni mengunakan fungsi call by value dan call by reference. Fungsi call by value merupakan fungsi yang melewatkan nilai parameter variabel ke dalam fungsi, sedangkan fungsi call by reference adalah fungsi yang melawatkan alamat variabel ke dalam fungsi. Program di atas merupakan program pemanggilan fungsi pada suatu nilai yang kemudian melakukan fungsi tukar pada nilai-nilai tersebut. Untuk melakukan nilai tukar ini bisa digunakan fungsi call by value dan reference karena untuk membuat program ini agar syntax nya lebih sederhana bisa dilakukan dengan memanggil alamat variabel untuk kemudian nilai variabel itu ditampilkan.